Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

About

-Perahu Kertas-

               1.

JALAN YANG BERPUTAR                  Amsterdam, Juni 1999

Tidak ada alasan untuk meninggalkan Amsterdam pada musim panas. Inilah masa terbaik untuk bersepeda di sekitar Leidseplein dan Dam Square sambil menikmati sinar matahari yang merupakan surga tahunan bagi warga kota. Ia masih ingin duduk di pinggir pantai Blomendahl berbekal kanvas dan alat lukis, atau menikmati koffie verkeerd di salah satu kafe di 9 Straatjes dari pagi hingga sore bersama buku sketsanya.
Sambil mengosongkan baris terakhir bukunya dari rak yang bergantung di samping tempat tidur, pertanyaan yang sama seminggu terakhir ini berulang dalam kepalanya: umurku baru jalan delapan belas, tapi kenapa aku merasa terlalu lelah untuk semua ini?
Pintu di balik punggungnya berderit pelan.
“Nee , Keenan. Jangan bebani kopermu dengan buku. Biar Oma yang kirim semua bukumu ke Jakarta.”
Kopi susu atau café latte.
Tidak.
Keenan tersenyum tipis, urung membereskan buku-buku tadi. Hatinya terusik. Oma mengatakan itu seolah-olah ia tak akan pernah kembali ke rumah ini.
Keenan tahu saat ini akan hadir tak terelakkan. Hanya keajaiban yang bisa membatalkannya kembali ke Indonesia. Bertahun-tahun, Keenan berharap dan berdoa keajaiban itu akan datang. Keajaiban tak datang-datang. Hanya sesekali telepon dari Mama yang memuji sketsa-sketsa yang ia kirim, tanpa ucapan tambahan yang menyiratkan kalau ia bisa terus tinggal di Amsterdam, menemani Oma yang berjuang agar tidak digusur ke panti jompo karena dianggap terlalu tua untuk hidup sendiri, melukis di salah satu bangku di Vondelpark, tumbuh besar menjadi seniman-seniman yang ia kagumi dan banyak berseliweran di kota ini.
Keajaiban yang dimiliki Keenan punya tanggal kedaluwarsa. Cukup enam tahun saja. Orangtuanya bertengkar hebat seminggu sebelum akhirnya memutuskan bahwa ia, anak pertama mereka, dilepas ke negeri orang. Padahal Keenan tidak merasa di negeri orang. Bukankah di kota ini mamanya dilahirkan dan menjadi pelukis, sampai akhirnya pergi ke Indonesia dan berhenti menjadi pelukis? Keenan tidak tahu persis apa yang terjadi. Bagaimana mungkin orangtuanya, sumber dari bakat melukis yang mengalir dalam darahnya, justru ingin memadamkan apa yang mereka wariskan?
Papa khawatir Amsterdam akan menghidupkan seorang seniman dalam diri anaknya. Kenapa Papa takut? Keenan dulu bertanya. Karena otakmu terlalu pintar untuk cuma jadi pelukis, jawab ayahnya. Keenan pun bertanya-tanya, haruskah dia mulai menyabotase nilai-nilainya sendiri di sekolah agar papanya keliru? Tapi, untungnya, sebelum itu terjadi, Papa dan Mama sepakat. Dia diizinkan bersekolah di Amsterdam untuk enam tahun. Hanya enam tahun.
Dua ribu lebih hari berlalu dan Keenan merasa enam tahun sesingkat kedipan mata.
“Mungkin ini saja yang sebaiknya kamu bawa, vent ,” Oma menyerahkan dua buah buku bertuliskan 2500 Latihan Soal UMPTN, “supaya jij bisa belajar di pesawat.”
“Ja , Oma.” Keenan menyambut dua buku tebal itu dan berencana untuk meninggalkannya di kolong tempat tidur begitu Oma keluar kamar nanti.
“Oma tunggu kamu di meja makan, ya.” Perempuan tua itu berdiri, membereskan blus motif paisley-nya yang berkerut, mengencangkan jepit yang mencapit rambutnya yang sudah putih tapi masih lebat. Oma tersenyum. Keriput tidak menyusutkan kecantikan dari wajahnya. Oma sangat mirip Mama. Keenan mendadak merasakan kangen yang menjadikan kepulangannya ke Jakarta tidak terlalu buruk.
“Oma jadi masak?”
“Bruinebonen soep dan kaas brodje . Sesuai pesananmu. Oma kan niet ferget , vent. Oma selalu pegang janji.”
Satu malam pada musim dingin pertamanya di rumah ini, pemanas rumah mereka rusak. Oma mendekapnya dan membungkusnya dalam selimut tebal. Mereka berdua bertahan seperti itu di sofa. Menunggu pagi. Untuk pertama kalinya juga mereka merasakan kedekatan seperti dua sahabat yang saling menjaga. Malam itu, Oma janji tidak akan menangis kalau satu saat Keenan pulang ke Indonesia. Dan Keenan pun ikut berjanji tanpa tahu betapa beratnya memegang janji itu.
Panggilan untuk anak laki-laki.
Kamu.
Ya.
Sup kacang merah.
Roti keju.
Tidak bisa lupa.
Keenan memandangi neneknya yang berjalan menuju meja makan. Sudut mulut Oma selalu tampak tersenyum dan membuat air mukanya selalu ramah, langkahnya masih tegap meski memelan setahun belakangan ini. Dari celah pintu yang sedikit membuka, Keenan memandangi Oma membereskan taplak meja yang sudah rapi dan duduk menatap sup kacang merah yang mengepul di wajahnya. Sekalipun samar, Keenan dapat melihat mata tua itu berkaca-kaca, dan dalam gerakan cepat Oma tampak menyusut sesuatu dari ujung matanya.
Keenan menutup pintu kamar. Tak lama, seluruh ruangan itu tampak kabur. Berkali-kali Keenan mengerjapkan mata, tapi air di pelupuknya seperti tidak bisa berhenti.
Jakarta, Juli 1999 ...
Cewek bertubuh mungil itu tak henti-hentinya bergerak, berjingkat, kadang melompat, bahkan kakinya menendangi udara. Padahal kegiatannya hanyalah mengemas buku ke dalam dus, tapi dia memutuskan untuk mengombinasikannya dengan berjoget.
Kupingnya tersumbat earphone yang mengumandangkan musik new wave koleksi abangnya. Dia baru lulus SMA sebulan yang lalu, tapi selera musiknya sama dengan anak SMA lima belas tahun yang lalu. Semua orang selalu bilang, yang namanya Kugy itu luarannya doang up-to-date, tapi dalamannya out-of-date. Yang dikatai malah cuek cenderung bangga. Kugy tetap bersikeras bahwa musik tahun ’80, terkecuali fashion-nya, sangat keren dan genius.
“Karma-karma-karma-karma-karma Chameleon ... you come and go ... you come and gooo ...” Kugy mengipas-ngipas sebuah buku sambil menandak-nandak. Ia berusaha
keras tidak melihat cermin karena kelebatan bayangannya saja sudah membuat ia ingin terpingkal-pingkal. Jelek banget, decaknya. Terkagum-kagum sendiri.
Dari luar, adik perempuannya, Keshia, mengetuk-ngetuk pintu. Setelah semenit tidak ada hasil, Keshia yang tidak sabar mulai menggedor-gedor.
“Kugy! Woooi! Ada telepon, tuh!”
Ada suara dewasa berceletuk pelan dari belakang, “Kak Kugy.” Terdengar penekanan pada kata ‘‘Kak’’.
Keshia melirik ibunya sambil melengos. Beliau tidak bosan-bosannya mengingatkan untuk memanggil Kugy dengan tambahan ‘kak’. Masalahnya, kelakuan kakak perempuannya yang satu itu kurang layak untuk menyandang titel ‘‘kakak’’.
Pintu penuh stiker di hadapan Keshia membuka. Kugy melongok dengan sebelah earphone-nya menjuntai. Bukannya buru-buru mengangkat telepon, dia malah menengok ke ibunya dulu, “Ma, gimana kalau aku ganti nama jadi Karma? Kan tetap dari ‘K’. Jadi nggak menyalahi aturan rumah ini.”
Keshia ikut menengok ke ibunya dengan tatapan putus asa, “Tuh, kan, Ma? Dia aneh banget, kan?”
Ibunya hanya mengangkat bahu sambil terus membaca. “Punya anak lima saja manggilnya suka ketukar-tukar, apalagi ada yang mau ganti nama. Malas, ah. Nanti saja kalau Mama sudah tua, sudah pikun. Jadi nggak ngaruh. Mau Karma, kek, mau Karno ... terserah.”
Keshia dibuat melongo. Dia mulai menyadari dari mana keanehan Kugy itu berasal.
Dengan logat British yang dibuat-buat, Kugy menjawab telepon. “Karma Chameleon speaking. Who is this?”
Ada beberapa detik kosong sampai terdengar jawaban dari ujung telepon. “Gy? Noni, nih. Emang lu sangka siapa yang nelepon? Ratu Inggris?”
Mendengar suara Noni, mata Kugy langsung berbinar. Noni adalah sahabatnya sejak kecil. Dialah orang yang paling menunggu-nunggu Kugy selesai berkemas supaya bisa langsung cabut ke Bandung. Noni juga orang yang paling repot, persis seperti panitia penyambutan di kampung yang mau kedatangan pejabat tinggi. Dia yang mencarikan tempat kos bagi Kugy, menyiapkan jemputan, bahkan menyusun daftar acara mereka selama seminggu pertama. Singkatnya, Noni adalah seksi sibuknya.
“Jadi ke sini, nggak? Entar kamar kos lu keburu gua lego ke orang lain!” Suara Noni yang melengking tajam begitu kontras menggantikan suara Boy George yang halus dari kuping Kugy.
“Santailah sedikit, Bu Noni. Legalisasi STTB ke sekolah aja gua belum sempat ....”
“HA? Orang lain tuh sudah dari berabad-abad yang lalu legalisasi STTB-nya, tahu!”
“Itu jelas nggak mungkin. Yang namanya STTB baru ada waktu angkatan abang gua sekolah ....”
“Kapan mulai beres-beres, Gy? Buku-buku lu yang banyak banget itu dipaket aja ke Bandung, nggak usah bawa sendiri. Bagasi mobilnya Eko kan kecil, nanti nggak bakal muat. Lu bawa baju-baju aja, ya? Tiket kereta api udah pesan, belum? Lagi penuh lho. Ntar terpaksa beli di calo. Sayang duit.”
“Non, lu tuh lebih cerewet dari tiga nyokap gua dijadiin satu. Serius.”
“Minggu depan, pokoknya nggak mau tahu, lu harus udah sampai di Bandung. Mobil Eko udah gua suruh masuk bengkel dulu biar nggak mogok pas ngejemput lu ke stasiun. Habis itu kita langsung keliling buat belanja kebutuhan lu. Kamar lu udah gua sapu-sapu dari kemarin. Pokoknya tahu beres, deh.”
“Tapi lu juga lebih rajin dari tiga pembantu gua dijadiin satu.”
“Dasar anak gila!”
“Kurang ajar lagi ....”
“Iya! Kurang ajar!”
“Gimana sih, gua. Payah banget.”
Noni tiba-tiba tertawa. “Kok lu jadi marahin diri lu sendiri!”
“Iya, ya?” Kugy ikut tertawa. “Supaya menghemat energi lu, Non. Kan lu udah capek bantuin gua. Udah capek ngurusin si Eko dan Fuad-nya yang ngadat melulu itu ...”
“Emang! Kadang-kadang mendingan nge-date pake sepeda kumbang daripada Fiat kuning itu. Lebih sering si Fuad mogok daripada si Kombi kawin.”
“Wuahaha! Parah banget, dong! Mending kalo Fuad bisa beranak, minimal kalian bisa jadi peternak Fiat ...” Kugy tergelak-gelak. Komba dan Kombi adalah pasangan hamster peliharaan Noni dan pacarnya, Eko. Pasangan Komba dan Kombi ini tidak henti-hentinya beranak sampai-sampai Noni dan Eko sempat punya profesi baru yakni pedagang hamster.
“Ya udah, minggu depan pokoknya gua tunggu di Bandung, ya. Jangan lupa: STTB, pesan tiket KA, packing, paketin buku-buku lu, payung lipat yang dulu lu pinjam, jaket jins gua—masih di lu kan, ya? Terus ...”
Kugy menjauhkan gagang telepon sebentar dari kupingnya, menunggu sayup suara Noni selesai bicara sambil pindah-pindah saluran teve.
“Gy? Udah dicatat semua? Kugy?”
Kugy buru-buru menyambar telepon kembali. “Siap! Sampai ketemu minggu depan, ya!”
Saat pembicaraan telepon itu usai, Kugy terkikik-kikik sendiri. Sahabatnya yang satu itu memang luar biasa. Keluarganya
sendiri bahkan tidak usah repot mengurus ini-itu ketika Kugy harus bersiap kuliah di Bandung. Noni membereskan hampir segala persiapan Kugy dengan baik dan sukarela. Dari mereka kecil memang selalu begitu. Orang-orang bilang, Noni seperti mengasuh adik, padahal mereka seumuran.
Noni yang anak tunggal dan Kugy yang dari keluarga besar adalah sahabat karib yang saling melengkapi sejak TK. Kedua ayah mereka sama-sama merintis karier di perusahaan yang sama, dan hubungan kedua keluarga itu terjalin akrab semenjak hari pertama mereka berjumpa. Seperti disengaja, kedua ayah mereka pun selalu ditugaskan berbarengan.
Noni dan Kugy tumbuh besar bersama, selalu tinggal di kompleks perumahan yang sama, pindah dari satu kota ke kota lain hampir selalu bersamaan: Ujungpandang, Balikpapan, Bontang, dan berakhir di Jakarta saat mereka kelas 1 SMP. Pada tahun itu, untuk pertama kalinya mereka berpisah. Ayah Noni yang duluan pensiun, memilih tinggal di Subang untuk menghabiskan hari tuanya, dan Noni kemudian disekolahkan di Bandung. Sementara ayah Kugy tetap tinggal di Jakarta bersama keluarganya.
Meski Noni selalu tampak lebih dewasa dan teratur ketimbang Kugy yang serampangan, sesungguhnya Kugy memiliki keteguhan yang tidak dimiliki Noni. Sejak kecil, Kugy tahu apa yang dimau, dan untuk hal yang ia suka, Kugy seolah-olah bertransformasi menjadi sosok yang sama sekali berbeda.
Pilihannya mengambil jurusan Sastra adalah buah dari cita-citanya yang ingin jadi penulis dongeng. Pilihannya kuliah di kota lain adalah buah dari khayalannya untuk hidup mandiri. Di luar dari perilakunya yang serba spontan, Kugy merencanakan dengan matang perjalanan hidupnya.
Ia tahu alasan di balik semua langkahnya, dan benar-benar serius menangani impiannya.
Dari SD, Kugy rajin menabung, dan semua hasil tabungannya dibelikan buku cerita anak-anak, dari mulai cergam stensilan sampai buku dongeng klasik yang mahal. Kemudian investasi itu ia putarkan lagi melalui usaha penyewaan, sampai bukunya terus bertambah banyak. Jadilah Kugy pemilik taman bacaan termuda di kompleksnya, sekaligus yang tergalak. Seperti predator di hutan rimba, ia memburu para penyewa ‘‘nakal’’ dengan sepeda mininya, hingga mereka tersudut dan tidak ada cara lain agar berhenti dikejar-kejar selain mengembalikan buku.
Kugy melakoni dengan tekun segala kegiatan yang ia anggap menunjang cita-citanya. Kugy menjadi Pemimpin Redaksi majalah sekolah dari mulai SMP sampai SMA. Ia dikenal sebagai pionir dengan ide-ide segar bagi kehidupan buletin sekolah, ia nekat memburu para figur publik betulan untuk diwawancarai dengan pendekatan yang profesional, yang lalu dituangkan ke dalam bentuk artikel yang serius. Dengan rajin ia mengikuti segala perlombaan menulis di majalah-majalah, lalu bekerja sebaik dan sekeras mungkin, untuk akhirnya keluar menjadi juara. Sampai-sampai Kugy hafal juri-juri mana yang biasa dipakai dan bagaimana seleranya.
Tidak semua orang menganggap menjadi penulis dongeng layak disebut sebagai cita-cita. Kugy juga tahu itu. Semakin ia beranjak besar, Kugy sadar bahwa sebuah cita-cita yang dianggap layak sama dengan profesi yang pasti menghasilkan uang. Penulis dongeng bukan salah satunya. Untuk itu, sepanjang hidupnya Kugy berupaya membuktikan bahwa ia bisa mandiri dari buku dan menulis.
Dalam kamarnya yang bergabung dengan taman bacaan di loteng rumah, Kugy menyusun balok demi balok mimpi10
nya. Suatu hari ia bukan hanya seorang kolektor buku dongeng. Ia akan menulis dongengnya sendiri, kendati jalan yang ditempuhnya harus berputar-putar.
                                                                               .11.


Jakarta, Agustus 1999 ...
“Keenan mana, Ma?” tanya pria itu dengan gelisah. Badannya, yang tinggi dan masih tegap untuk umurnya yang memasuki kepala lima, hanya berbalutkan kaus putih polos dan celana olahraga. Langkah-langkah beratnya hilir mudik sedari tadi.
“Palingan juga masih tidur,” jawab istrinya santai. Konsentrasinya lebih terpusat pada dua gelas berisi kopi susu panas yang sedang ia aduk.
“Gimana, sih. Kok kayaknya kita yang lebih antusias menunggu pengumuman UMPTN daripada pesertanya sendiri,” dumel suaminya.
“Eh, itu, korannya datang!” seru istrinya ketika ia mendengar gesekan kertas koran di depan pintu.
Seperti balap lari, mereka buru-buru ke pintu depan dan langsung membuka halaman tengah koran yang padat dengan barisan nama-nama.
“Ini namanya! Dia masuk!” istrinya berseru dengan suara tercekat sambil menunjuk satu nama.

                                                                  2.

                                 PINDAH KE BANDUNG

12
Antara percaya dan tidak, pria itu pun meyakinkan dirinya berkali-kali, bahwa memang cuma ada satu nama seperti itu: K E E N A N. Tercetak jelas.
“Kita bangunkan saja dia,” ujarnya tidak sabar.
“Ah, nggak usah. Biar dia tidur sepuas-puasnya. Kasihan Keenan, dari kemarin begadang terus,” istrinya menyergah dengan senyum mengembang, “toh hari ini dia sudah membuat kita semua lega.”
Padahal Keenan sudah tahu apa yang terjadi. Tidak mungkin menutup telinga dari suara apa pun di rumah mungil ini. Sambil meringkuk dan memeluk lutut, Keenan menerawang di atas tempat tidur, bertanya-tanya pada dirinya sendiri: apakah ia salah karena tidak merasakan kebahagiaan yang sama? Apakah ia puas atas kesuksesannya menyenangkan orang lain? Dan apakah ia cukup berduka atas pengkhianatannya pada diri sendiri?
Di depan kanvas, mata Keenan terpaku. Mendapatkan lembar kosong itu sebagai jawaban pertanyaan hatinya.
Dua belokan dari rumah Kugy, ada sebuah kali. Meski berair cokelat, arus kali itu mengalir lancar dan tidak mampat seperti kebanyakan kali di Kota Jakarta. Kugy menyadari sesuatu ketika baru pindah ke Jakarta, di mana pun ia tinggal, ia selalu menemukan air mengalir dekat rumahnya. Seolah-olah ada yang menginginkan agar kebiasaannya yang satu itu terus berjalan.
Kugy ingat betul bagaimana sejarah kebiasaan itu bermula. Waktu itu keluarganya masih tinggal di Ujungpandang. Rumah mereka yang berseberangan dengan laut membuat Kugy kecil banyak menghabiskan hari-harinya di pantai. Adalah Karel, abangnya yang paling besar, yang pertama kali
13
memberi tahu bahwa zodiak Kugy adalah Aquarius. Simbolnya air. Kugy kecil lalu berkhayal dirinya adalah anak buah Dewa Neptunus yang diutus untuk tinggal di daratan. Seperti mata-mata yang rutin melapor ke markas besar, Kugy percaya bahwa ia harus menulis surat untuk Neptunus dan melaporkan apa saja yang terjadi dalam hidupnya.
Ia mengirim suratnya yang pertama saat mulai bisa menulis sendiri. Kugy melipat surat itu menjadi perahu lalu dihanyutkan ke laut. Hampir setiap sore Kugy selalu mampir ke pantai, mengirimkan surat-surat berisi cerita atau gambar untuk Neptunus.
Kugy protes keras saat keluarga mereka harus pindah kota, yang artinya tak ada pantai lagi dekat rumah. Ia ngambek berkepanjangan sampai akhirnya Karel menjelaskan bahwa selama ada aliran air, di mana pun itu, Kugy tetap bisa mengirim surat ke Neptunus. Semua aliran air akan menuju ke laut, begitu kata Karel sambil menyusutkan linangan air mata di pipi Kugy.
“Air sungai bakal sampai ke laut?”
Karel mengangguk.
“Air empang bakal sampai ke laut?”
Karel mengangguk lagi.
“Air selokan bakal sampai ke laut?”
Karel masih mengangguk.
Barulah Kugy teryakinkan. Kendati bukan lagi dekat laut, rumah mereka yang berpindah-pindah selalu dekat sesuatu yang mampu meyakinkan Kugy bahwa surat-suratnya tetap sampai pada Neptunus. Termasuk rumah mereka yang dekat kali di Jakarta.
Namun, kebiasaan itu mengendur seiring waktu. Kugy yang beranjak besar pun sadar bahwa besar kemungkinan Dewa Neptunus itu tidak ada, bahwa surat-suratnya sampai ke laut sudah dalam bentuk serpihan mikron yang tak lagi
14
bermakna, atau bahkan tidak sampai sama sekali. Namun, Kugy juga tidak bisa menjelaskan bagaimana di lubuk hatinya ia masih ingin percaya. Ia tidak bisa menjelaskan bagaimana batinnya dibuat damai dengan menyaksikan perahu-perahu kertas itu hanyut terbawa air.
Pagi itu ia berdiri di tepi kali. Hiruk-pikuk kerumunan anak kampung dari pelosok gang berdengung di telinganya. Namun, Kugy tak terganggu. Matanya tak lepas mengamati aliran air cokelat di bawah kakinya. Perlahan, ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celana. Sebuah perahu kertas. Kugy tidak ingat kapan terakhir ia menghanyutkan perahu di sana. Terlalu lama ia lupa tugasnya sebagai mata-mata dunia air. Entah kenapa, kepergiannya kali ini menggerakkan ia kembali menulis. Sebuah surat pendek berisi sebaris kalimat:
Nus,
Saya pindah ke Bandung. I’ll find my stream. Sampai ketemu.
Berbarengan dengan batu, kail, daun, dan segala yang dicemplungkan tangan-tangan kecil di sebelahnya, sebuah perahu kertas melaju tak terganggu.
Seorang anak SMP berambut ikal tampak berlari dan bergegas memasuki pagar rumahnya yang terbuat dari kayu bercat putih. Garis-garis mukanya yang tegas dan runcing dikombinasikan dengan kulit putih tapi gosong kemerahan akibat terpaan sinar matahari membuatnya persis seperti turis peselancar di pinggir Pantai Kuta. Rumah asri yang terletak di daerah hijau di Jakarta Timur itu tampak lela


"segini dulu dah...klo tnggal nambah...1500....1/2 jam........3000....baru sejam"
contack aja....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cinta Sang Dara







          ASTRID SUBANDONO menatap jauh melewati daun jendela rumahnya di kawasan Royal Garden.Kabut gelap perlahan mulai naik dan menghilang bersama terbitnya matahari,memperlihatkan puncak bukit Panderman yang membiru.Sebuah bendera merah yang ditancapkan para pendaki mulai berkibar diterpa angin pagi pegununggan.

         Selama dua puluh empat tahun hidupnya Astrid telah melakukan hal yang sama. Dari tempat yang sama menikmati pemandangan yang sama.  Seringkali dalam hidupnya ia ingin pergi dan mencoba kehidupan yang lain di tempat yang lain. Namun tak pernah sekalipun terpikir dalam angannya bahwa suatu hari nanti ia akan pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

        Tapi sepertinya itulah yang akan segera terjadi. Ia terancam kehilangan segalanya. Royal Garden, yang selama ini menjadi rumah dan sekaligus sumber penghidupan keluarganya harus lepas dari tangannya. Baru lima belas jam yang lalu ayahnya dimakamkan setelah terkena stroke dan tidak tertolong. Dan pagi ini haris Tofly datang kerumah mengejutkannya dengan kenyataan yang tak pernah terbayang akan menimpa dirinya. Keluarganya bangrut. Semula,Astrid mengira pria itu hanya bermain-main dengannya. Tapi tepat detik itu pula Astrid percaya itu benar. Tidak akan ada seorang pun pengaca bercanda tentang hal buruk seperti itu hanya selang seari dar kematian kliennya.

      “Bagaimana mungkin?” bisiknya pada diri sendiri, tetap belum sepenuhnya mempercayai apa yang akan dikatakan biasa-biasa saja bahakan oleh dirinnya sendiri yang telah selama hidupnya tinggal disana. Rumahnya terletak didataran paling tinggi, kemudian tepat disebelahnnya terdapat villa-villa yang biasanya disewa oleh orang-orang perkotaan yang ingin menikmati udara pegununggan kemudian disusul sebuah perkebunan luas yang menjadi area argowisata berisi sebagai tanaman buah.lalu yang terletak di dataran paling bawah adalah pemandian dan area bermain. Yang jelas, Royal Garden nyaris tidak pernah sepi selama tahun-tahun terakhir. Jadi siapa yang menyangka kalau di balik semua keramaian ini ada masalah keuangan yang sangat pekik?

“Royal Garden masih memberikan pemasukan yang tidak bisa di bilang sedikit,”kata Astrid  berbalik,menatap pengacara ayahnya yang tengah duduk kaku tengah-tengah ruang tamurumahnya yang besar.

          Haris Tofly mengangguk,”Ya. Tapi itu tidak cukup.””apa yang sebenarnya terjadi ?” Astrid kembali duduk di hadapa Hari Tofly. Menyiapkan diri untuk mendengarkan berita buruk yang akan disampaikan pengacara ayahnya itu. Pria itu melihat Astrid dengan tekad bulat. Ia memang tidak sebenarnya mengganggu gadis ini hanya selang sehari dari kematian ayahnya. Ia tahu, kematian Aswandi Subandono yang mendadak ini saja sudah membuat gadis ini terpukul. Dia sangat tahu bagaimana Aswandi Subandono selalu melindungi dan menyayangi gadis ini melebihi segalanya yang ada di muka bumi ini. Dan Haris sendiri yakin, karena itu pulalah aswandi sampai tidak tahu menahu masalah keuangan yang sangat besar itu. Sejak dulu Aswandi bertekad tidak akan membebankan masalah ini pada putri satu-satunya. Pria keras kepala itu akhirnya malah membawa rahasia itu sampai ajal menjemputnya. Hanya saja yang tidak pernah dipikirkan Aswandi adalah bahwa masalah umur itu sudah ada yang mengaturnya sendiri. Dan sekaramg, ia justru telah membebankan hutang yang sangat besar pada putri satu-satunya yang nyaris tidak pernah kesusahan dalam hal keuangan. Dalam sehari terakhir, Haris seringkali berharap seandainya ia memiliki pilihan yang lain. “Sekitar tiga tahun yang lalu, ayahmu terlibat dalam sebuah investasi besar dengan janji keuntungan yang juga sangat besar,”kata Haris Tofly pada akhirnya. “Lalu kemana investasi itu? Kenapa kita justru bangkrut?””itulah bisnis,Astrid,”sahut Haris Tofly sabar.”Aku tahu itu,Pak Haris. Meski tidak pernah ikut campur dalam bisnis,aku tahu bisnis bisa untung atau bangkrut.” Pengacara itu terdiam “maaf,bukannya saya bersikap kasar” Astrid memutar-mutar ujung rambutnya dengan jari. “Tapi apakah modal uang itu tidak bisa kembali?”sayangnya tidak.”jadi selama tiga tahun terakhir kami sudah bernasalah dengan keuangan?”Benar. Dan semenjak itu keadaan jadi berbalik. Pak Aswandi harus mati-matian menutupi hutangnya. Penghasilan Royal Garden memang besar, tapi tidak lagi mampu menutupi semua hutang itu.”Astrid mengerenyit,”Tapi selama ini kami selalu hidup kelebihan. Ayah tidak pernah mengeluhkan tentang apapun,apalagi masalah keuangan. Ayah selalu bergembira dan kelihatan bahagia. Dan yang jelas, ayah tidak pernah bilang padaku kalau keuangan Royal Gardensedang dalam masalah.”Haris Tofly mengangguk. “Saya juga tahu tentang hal itu. Itu sengaja dilakukan Pak Aswandi karena beliau sangat menyayangimu. Kau putri satu-satunya dan apapun yang terjadi ayahmu bertekad membiarkan kau mengetahui kesulitan keuangannya. “Ya ampun. “Astrid mengeluh. Inilah yang selalu dilakukan ayahnya. Selalu menganggapnya anak kecil yang rapuh dan selalu memerlukan perlindungan selama hidupnya. Ia sering tertekan dengan kasih sayang ayahnya tanpa mampu berbuat apa-apa. Apalagi,jika dibandingkan dengan kelurga-keluarga sepupunya yang lain,ia masih beruntung mempunyai oarang tua yang menyayanginya. Lagi-lagi astrid mengeluh. “Tapi aku sudah dewasa, bukan anak kecil yang akan merengek dan merajuk jika ada kesulitan yang menipa ku. “Memang seharusnya tidak seperti itu. Tapi kau tau sendiri ayahmu. “Sekarang aku jadi bertanya-tanya. Dari mana asal uang yang selam tiga tahun terakhir aku pakai? “Astrid meluruskan punggungnya, menatap pengacara dengan nanar. Wajahnya yang masih menyisakan sembab akibat kepedihan kemarin,semakin mencuat. “Perjalanan-perjalanan yang sering aku lakukan? Gaun-gaun, alat-alat kecantikan,salon.  Itu semua dari mana?”


             Haris Tofly menunduk, memandangi sepatunya.”Oh tidak,”Astrid menutup wajahnya dengan kedua tangan.”Ayah seharusnya tidak melakukan ini.”Kau tidak apa-apa?”tanya Haris khawatir. Astrid mendongak,tubuhnya gemetar. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Selama ini ia hidup didalam kotak kaca yang telah dibangun orang tuanya. Selalu aman dibawah naungan ayahnya. “Berapa tepatnya hutang Ayah?”Pengacara menyebutkan sebuah angka yang membuat Astrid shock. Ia sendiri hidup selalu dengan bergelimang uang selama hidupnya. Tapi ia tidak pernah berfikir mempunyai uang sebanyak itu,apalagi memiliki hutang sebesar itu. “Kapan jatuh temponya?”tanya Astrid lagi lama kemudian,setelah berhasil memaksakan dirinya untuk tenang kembali. “Bulan depan tanggal 15.”Apa?”Astrid menghitung-hitung.”Itu tanggal dua puluh hari lagi.”Benar.”Astrid merasa kakinya mengambang diatas tanah.”Jadi,apa yang harus aku lakukan?”Kecuali kau bisa mendapatkan uang sebanyak ini,kau harus menjual Royal Garden.” Astrid benar-benar merasa ingin pingsan. Menjual Royal Garden? Satu-satunya tempat bernaung sekaligus pencarian warisan keluarganya?”lalu aku harus kemana?”Bisiknya. “Maaf Astrid. Seandainya aku bisa mengusulkan yang lain. Tapi aku tidak punya jalan lain.”Bagaiman dengan pinjam ke Bank?”Tanya Astrid gentar.”Tidak bisa lagi,rumah ini dan seluruh wilayah Royal Garden telah di hipotekkan.”Astrid termangu. Rumah ini,rumah yang selalu menjadi kebanggaan turun temurun dalam keluargannya.rumah yang di bangun oleh buyut  ayahnya ini suadah menjadi salah satu daya tarik bagian wisata kota tempat kelahirannya dan bagian yang sudah menyatu dengan Royal Garden. Tak pernah terbayangkan kalau suatu saat akan berpindah ke tangan orang lain. Tapi,hutang tetaplah hutang. Bahkan mesti tidak perbah terjun langsung untuk bekerja di Royal Garden---sumber nafkah kelurgannya selama ini---ia tahu kalau omsetnya tidak akan mampu menutupi hutang Ayahnya. Mau tidak mau ia harus merubah gaya hidupnya selama ini. Tidak ada mobil, tidak ada traveling,dan juga tidak ada semua kemewahan yang selama ini dinikmatinya. Mungkin sedikit sulit,tapi ia tidak punya pilihan. “Apa itu sudah cukup untuk melunasi hutang?”Pengacara itu bergerak-gerak gelisah. “Tepatnya aku belum.....”Katakan,Pak Haris,”desak Astrid.”Kau tahu sendiri kalau sekarang aku yang bertanggung jawab atas semua apa yang telah dilakukan Ayah. Jadi jangan mencoba membunyikan apapun dariku.”Harid Tofly menatap Astrid. Beginilah kehidupan,bisa berbalik dalam hitungan detik saja. Gadis cantik itu,yang selama ini selalu berlinding di balik punggung ayahnya seprti boneka cantik yang hanya bisa dipajang dan dipandang dari kejauhan,yang tahu hanya menikmati kehidupan,tiba-tiba saja terperosok pada masalah yang tidak akan pernah ada yang menduga akan di alaminya. Bahkan Aswandi Subandono pun pasti juga tidak akan mengira ini akan menimpa putri satu-satunya.

          Ketegaran Astrid ccukup mengejutkan Haris. Semula ia akan mengira akan menghadapi gadis manja yang histeris. Menangis dan memaksanya untuk mencari jalan lain,apapun itu selain menjual Royal Garden. Tapi gadis ini, meski tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan sangat terpukul,setidaknya masih bisa di ajak berkomunikasi dan berfikir. “Astrid. Harga rumah ini belum pasti. Tapi berdasarkan perkiraan masih kurang. Kau juga harus menjual semua perabotan dan semua mobil. Trmasuk land rovermu.”

                                                                                   @

            “Apa maksudmu menjual Royal Garden?”tanya Edwin Subandono, sepupunya Astrid yang malam itu datang kerumah bersama Mike,sepupunya yang lain. Mereka tidak dapat menyimpan kekejutannya saat Astrid akan menjual Royal Garden yang merupakan warisan buyut mereka. “Aku tidak punya pilihan. Kalian tahu,aku punya firasat buruk. Sepertinya aku tidak akan mendapatkan apapun.  Seluruh perabotan,tanah dan bahkan land roverku sendiri. Semua akan hilang intinya,saat ini aku sangat miskin. Aku tidak memiliki uang satu rupiahpun.” Kedua pria itu tidak berkata apa-apa,hanya memandang wajah Astrid seolah sebelum pernah melihat gadis itu sebelumnya.”Percayalah,”Astrid meyakinkan.”Semula aku juga tidak percaya. Bagaimana mungkin aku menjual Royal Garden yang selama beberapa generasi menjadi milik kelurga kita? Yang seumur hidup sudah menjadi tempat tinggalku? Tapi saat Pak Haris menunjukan data-data hutang itu ....”Astrid menggeleng.”Aku tahu tidak memiliki pilihan yang lain lagi.”Royal Garden,diwariskan pada Oom Aswandi bukan untuk di jual,”kata Edwin.”Tapi untuk dirawat dan dilestarikan.”Edwin benar. Tempat ini,selain sebagai tempat tinggalmu juga merupakan kebanggaan kelurga besar Subandono. Apa kau tidak memikirkan apa reaksi mereka? Yang pasti,ibuku dan bibi Wening akan mencak-mencak karena ini. Kita akan mencari jalan lain agara Royal Garden tidak dijual,”sambung Mike,yang sebelumnya pulihdari keterkejutannya.

             Astrid menyilangkan kakinya.”
  ”Aku juga selalu memikirkan hal itu. Kalian bisa menolongku dengan meyakinkan mereeka Bibi Nurman dan Bibi Wening kalau aku sudah tidak punya pilihan lain. Sebenarnay, semasa hidup ayah selalu mewanti-wanti aku untuk memelihara Royal Garden dan rumah ini dengan sebaik-baiknya. Tapi siapa yang akan tahu akan ada masalah seperti ini? “Satu-satunya hal yang bisa menghindarkan aku menjual Royal Garden adalah mencari pinjaman. Tetapi siapa yang mau meminjamkan uang sebanyak itu? Sementara seluruh wilayah Royal Garden termasuk rumah ini telah dijadikan hipotek. Kita belum bisa mendapatkan kredit sebelum hutang itu  terbayar. Lagipula mana ada yang mau meminjamkan uang sebanyak itu.dan buruknya lagi,kalaupun Royal Garden tidak aku jual,nantinya juga akan disita Bank.”Ini seperti mimpi buruk,”gumam Mike  menggeleng.”Tapi kau masih punya kami,Astrid.”Astrid mendongak,menatapa Mike lalu beralih pada Edwin. Kedua sepupunya itulah yang selama ini menjadi temannya. Benar-benar sebagai teman. Sebagai orang kaya, banyak yang dekat dengan kelurganya. Tapi Astrid bisa merasakan siapa yang benar-benar tulus berteman dengannya atau hanya karena pretise atau kekayaannya saja.

            Mereka bertiga tumbuh bersama sejak kecil. Dulu, sewaktu kecil Edwin dan Mike selalu marah jika Astrid terus-menerus mengikuti kemanapun mereka pergi. Edwin dann Mike kanak-kanak selau merasa terganggu karena diikuti anak perempuan keras kepala seperti Astrid. Mereka sepertinya tak bosan-bosannya membujuk Astrid untuk bergaul dengan sepupu-sepupu mereka yang perempuan,yang suka main boneka dan masak-masakan. Tapi Astrid terlalu keras kepala untuk mengikuti kemauan kedua sepupunya itu sampai akhirnya Edwin dan Mike menjadi terbiasa dan membiarkan Astrid mengikuti mereka. Sampai akhirnya persahabatan mereka berlangsung sampai sekarang. Kedua sepupu pria itu suka menggodanya sebagai anak papa karena kasih sayang yang berlibihan yang diberikan paman mereka,Aswandi Subandono. Tapi astrid tidak pernah mengeluh dengan kasih sayang Ayahnya. Ia merasa orang paling beruntung diantara kedua sepupunya itu. Edwin memiliki orang tua tang keras. Seringkali Edwin melarikan diri ke rumahnya jika merasa jenuh dirumah karena terlalu banyak peraturan yang harus di jalaninya. Dan sekarang,sepupu tersayang itu sedang mempersiapkan pernikahannya. Lalu Mike,sebenarnya sepupunya memiliki sifat yang periang dan humoris. Tapi bulan-bulan terakhir adalah saat yang berat baginya. Pernikaham indah yang membuat Astrid iri beberapa tahun yang lalu. Ternyata berakhir dengan tidak kebahagiaan. Hari-hari Mike lebih banyak di habiskan untuk mencari istrinya yang tidak tentu dimana rimbanya. Astrid sendiri tidak habis mengerti,kenapa Fiona lebih memilih meninggalkan Mike dan putrinya Riris,yang masih kecil dan sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Dulu, Astid termasuk dengan dengan fiona,dan jelas-jelas tahu bagaimana cinta wnita itu kepada suaminya. Mungkin sifatnya yang sering  memendam perasaannya itu yang sering menjadi penghambat cintanya dengan sang suami. Astrid selalu merasa ada yang tidak beres dengan larinya Fiona. Tapi ia tidak tahu apa itu dan tidak ingin membuat Mike lebih cemas lagi dengan kekhawatiran-khawatiranya yang tidak beralasan. Di saat mereka sedang memiliki kepentingan sendiri-sendiri seperti ini,yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit,apakah Astrid tega meminta bantuan dari  mereka?

           “Kalian mau membantu ku bagaimana? Mau menjual Hotel mu itu,Mike?Aku tahu kamu sedang mencari keberadaan istrimu. Kau tmembutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk itu. Dan kau juga Edwin. Apa kau mau menjual rumah sakitmu?Lagipula kau akan segera menikah.”













    














    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LUPUs

/* ------------------------------------------------------------ */ /* dtbook.2005.basic.css Created 10-13-1999 by M. Moodie from M. Hakkinen's template Modified 03-16-2000 and 09/06-2000 by M. Brown Modified 12-12-2002 by Guillaume du Bourguet (BrailleNet) M Gylling 2003-11-04: additions, merging and fixing of Dtbvisv3.css, dtbook-std.css, dtbbase.css, into dtbook.basic.css version (2004-08-28, m gylling): --> dtbook.2004.basic.css <-- Changelist: Added support for: bridgehead hd poem linegroup dateline byline epigraph covertitle version (2005-01-18, m gylling and brandon nelson) --> dtbook.2005.basic.css <-- Changelist latest version: Misc updates for Z39.86.2005 version of dtbook version (2006-08-18, b nelson) Changelist: Fixed inline pagenums version (2006-09-28, m gylling) Changelist: Fixed new http reference in this comment This CSS is supported and maintained by the Z39.86 committee. You may modify and redistribute it, but please consider donating enhancements back to the source. Contact: markus.gylling@tpb.se z3986@mail.daisy.org WWW: http://www.daisy.org/z3986/2005/ Note: if you want to apply local/specific rules, the best way to do that is to associate another stylesheet with the dtbook document via an additional xml-stylesheet link. In that additional stylesheet you can override rules in or add rules to this stylesheet. If the proximity rule works to your disadvantage, use the !important syntax to force things to order. */ /* ------------------------------------------------------------ */ /* The following strings are searchable to go directly to subsection: elements without display properties base properties of whole doc frontmatter bodymatter rearmatter headings pagenum, linenum general block general inlines list.ul,list.ol tables images */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* elements without display properties */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* changed from dtbook to html */ html { display:block; width: 100%; } head, head * { display: none } /* ------------------------------------------------------------- */ /* base properties of whole doc */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* Change from book to body */ body { display: block; background-color: rgb(255,255,255); color: rgb(0,0,0); font-family: arial, verdana, sans-serif; line-height: 1.5em; margin-top: 4em; margin-bottom: 2em; margin-left: 6em; margin-right: 6em; } /* ------------------------------------------------------------- */ /* frontmatter */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* make this into a class */ .frontmatter { display: block; margin-top: 1em; margin-bottom: 1em; } /* make these into classes */ .doctitle, .docauthor, .covertitle { display: block; font-weight: bold; text-align: center; } .doctitle { font-size: 2.0em; } .covertitle { font-size: 1.5em; } .docauthor { font-style: italic; font-size: 1.5em; } /* ------------------------------------------------------------- */ /* bodymatter */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* make this a class */ .bodymatter { display: block; margin-top: 1em; margin-bottom: 1em; } /* ------------------------------------------------------------- */ /* rearmatter */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* make this into a class */ .rearmatter { display: block; margin-top: 1em; margin-bottom: 1em; } /* ------------------------------------------------------------- */ /* headings */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* bridgehead and hd become classes */ h1, h2, h3, h4, h5, h6, .bridgehead { display: block; font-weight: bold; margin-bottom: 0.5em; } /* junk the level hd, level level hd, etc. */ h1 { font-size: 1.7em; margin-top: 1.5em } h2 { font-size: 1.5em; margin-top: 1.2em } h3 { font-size: 1.4em; margin-top: 1.0em } h4 { font-size: 1.3em; margin-top: 1.0em } h5 { font-size: 1.2em; margin-top: 1.0em } h6 { font-size: 1.0em; margin-top: 1.0em } /* bridgehead and hd become classes */ .bridgehead, .hd { font-size: 1.0em; margin-top: 0.8em } /* ------------------------------------------------------------- */ /* pagenum, linenum */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* make this into a class junk the distinctions between inline/block displays. with the xsl styling it'll display as a paragraph or span, which will handle it*/ .pagenum { /*display: inline;*/ color: rgb(30,30,30); padding: 0.2em 0.2em 0.2em 1em; border: 1px solid rgb(200,200,250); margin-top: 0.8em; margin-bottom: 0.8em; } /* junk this in favor of above */ /* level > pagenum, level1 > pagenum, level2 > pagenum, level3 > pagenum, level4 > pagenum, level5 > pagenum, level6 > pagenum { display: block; } */ /* class */ .linenum { display: inline; } /*TODO can we make this a class? if not can we achieve same affect with xsl? */ linenum:after { content: " " } /* ------------------------------------------------------------- */ /* general block */ /* ------------------------------------------------------------- */ div { display: block; } p { display: block; margin-top: 0.7em; } /* class */ .prodnote { display: block; padding: 0.2em; margin: 0.3em; border: 1px solid black; } /* class */ .sidebar { display: block; padding: 0.5em; margin-top: 1.5em; margin-bottom: 1.5em; border: 1px solid rgb(0,0,0); background-color: rgb(250,250,250); } div .sidebar, .sidebar .sidebar, blockquote .sidebar, dd .sidebar, li .sidebar, th .sidebar, td .sidebar { float: right; width: inherit; clear: both; margin-left: 1em; margin-right: 1em; } address { display: block; margin-top:1em; margin-bottom:1em; } /* class */ .note { display:block; margin: 1.2em 1em 1.2em 1em; padding: 0.5em 1em 0.5em 1em; border-top: 1px solid black; border-bottom: 1px solid black; } blockquote { display: block; margin-left: 2em; margin-top: 0.6em; margin-bottom: 0.6em; } /* TODO not currently used, should it be applied with a span in xsl to be used? */ /*line { display: block; margin: 0em; } */ /* class */ .poem { display: block; margin-left: 3em; margin-top: 1em; margin-bottom: 1em; } /* class */ .linegroup { display: block; margin-top: 0.6em; } /* classes */ .dateline, .byline { display: block; } /* class */ .epigraph { display: block; margin-top: 2em; margin-bottom: 2em; margin-left: 3em; font-style: italic; } /* ------------------------------------------------------------- */ /* general inlines */ /* ------------------------------------------------------------- */ a { display: inline; text-decoration: underline; color: rgb(0,0,255); } bdo { display: inline; } em { display: inline; font-style: italic; } strong { display: inline; font-weight: bold; } kbd { display: inline; font-size: 90%; background: rgb(0,0,0); color: rgb(255,255,255); padding: 0.2em; } span { display: inline; } sub { display: inline; vertical-align : sub; font-size : 90%; padding-left: 0.3em; padding-right: 0.3em; } sup { display: inline; vertical-align : super; font-size : 90%; padding-left: 0.3em; padding-right: 0.3em; } abbr, acronym { display: inline; border-bottom: 1px dotted gray; } dfn { display: inline; border-bottom: 1px dashed black; } code { display: inline; font-family: courier, monospace; } samp { display: inline; } cite { display: inline; } cite .title { display: inline; border-bottom: 1px solid gray } cite .author { display: inline; } br { display:block; } q { display: inline; font-style: italic; } /* classes */ .noteref, .annoref { display: inline; font-size: 0.7em; vertical-align: super; padding-left: 0.3em; padding-right: 0.3em; border: 1px solid rgb(210,210,210); } /* not currently used sent { display:inline; margin:0em; } w { display:inline; margin:0em; } */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* list.ul,list.ol */ /* */ /* li > ul { list-style-type: circle; } ul > li > ul > li > ul { list-style-type: square; } /* the ">" and non ">" seem redundant list > li > list, list li list { */ ol li ol, ul li ul, ol li ul, ul li ol { margin-top: 0em; margin-bottom: 0em; } /* ------------------------------------------------------------- */ /* definition list */ /* ------------------------------------------------------------- */ dl, dt, dd { display: block; } dt { font-weight: bold; margin-top: 0.4em; } dd { margin-left: 2em; } /* ------------------------------------------------------------- */ /* tables */ /* ------------------------------------------------------------- */ table { display: table; border-spacing: 0px; border-collapse: collapse; margin-top: 0; margin-bottom: 0; /* -moz-box-sizing: border-box; */ text-indent: 0; empty-cells: show; } table > caption { display: table-caption; text-align: center; /* -moz-box-sizing: border-box; */ } tr { display: table-row; vertical-align: inherit; } col { display: table-column; } colgroup { display: table-column-group; } tbody { display: table-row-group; vertical-align: middle; } thead { display: table-header-group; vertical-align: middle; } tfoot { display: table-footer-group; vertical-align: middle; } td { display: table-cell; border: 1px solid gray; vertical-align: inherit; text-align: inherit; padding: 0.5em; } th { display: table-cell; border: 1px solid gray; vertical-align: inherit; font-weight: bold; padding: 2px; } /* ------------------------------------------------------------- */ /* images */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* class */ .imggroup { display: inline; } .imggroup > .caption { font-size: 80%; } /* ------------------------------------------------------------- */ /* span classes */ /* ------------------------------------------------------------- */ /* html classes */ span.underline { text-decoration: underline; } /* single and double strikethrough are the same for lack of a CSS property for double strikethrough */ span.strikethrough, span.double-strikethrough { text-decoration: line-through; } span.small-caps { font-variant: small-caps; }

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS